Rabu, 21 Januari 2015

AFTA 2015: Analysis SWOT Seorang Manager IT



SWOT adalah singkatan dari Strenghths (kekuatan), Weakness (kelemahan), Opportunities (peluang), dan Threats (ancaman). Ini adalah teknik untuk menyediakan kerangka kerja untuk mengidentifikasi secara sistematis posisi organisasi; caranya berhubungan dengan lingkungan eksternal dan masalah serta peluang yang dihadapi. Tujuan analisis SWOT adalah untuk memisahkan masalah pokok dan memudahkan pendekatan strategis. Kali ini kami akan membahas mengenai analisis SWOT Seorang Manager IT agar para calon karyawan lainnya dapat menghadapi AFTA 2015.

AFTA (ASEAN Free Trade Area) merupakan kesepakatan dari negara–negara di ASEAN untuk membentuk sebuah kawasan bebas perdagangan. Tujuannya yaitu agar bisa meningkatkan daya saing ekonomi kawasan ASEAN di dunia. Harapannya, jika AFTA ini sukses, maka, ASEAN bisa menjadi kawasan basis produksi di dunia.

Perjanjian perdagangan bebas AFTA dicetuskan ketika terjadi pertemuan tingkat Kepala Negara ASEAN atau SEAN summit ke-4, yang dilakukan pada tahun 1992. Pada pertemuan itu para kepala negara mengumumkan akan membentuk sebuah kawasan perdagangan bebas di ASEAN dalam jangka waktu 15 Tahun. Kalau dihitung seharusnya akan efektif berjalan secara penuh pada tahun 2007. Namun kenyataanya, AFTA ini akan aktif pada tahun 2015, yaitu menjadi 22 tahun kemudian.

Dengan adanya kebijakan perdagangan bebas AFTA ini, nantinya tidak akan akan ada hambatan tarif (bea masuk 0-5%) ataupun hambatan non tarif untuk negara – negara anggota ASEAN. Dengan begitu, tentunya keuntungan dan tantangan akan muncul untuk negara Indonesia juga. Lantas, apakah negara kita Indonesia sudah siap? Siap memanfaatkan kondisi ini untuk membuat negara lebih maju dan berkembang? Apalagi AFTA ini efektif tahun 2015.
Tantangan AFTA 2015 Untuk Indonesia
Setiap Negara-negara se-ASEAN mau tidak mau menghadapi AFTA siap atau tidak meskipun keadaan di negara masing-masing masih kurang terjamin. Tantangan AFTA 2015 sendiri bagi Indonesia sangat komplek, hal ini sering kita alami dan kita rasakan sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Yaitu lapangan pekerjaan dan pendidikan yang sulit, harga pasar dan bahan pokok dan BBM selalu naik tidak pasti, namun jika kita memiliki keahlian Negara kurang mendukung untuk mengembangkannya. Apalagi kemampuan SDM kita sangat kurang, lalu para tenaga ahli lebih memilih bekerja di luar negeri
Hal ini yang selalu menjadi pekerjaan rumah negara Indonesia dengan jumlah penduduknya yang sangat besar setelah India, maka pemerintah akan sulit dalam mengatur dan mengelolanya. Akan jauh lebih berbeda penyelesainnya dengan negara tetangga. Namun Indonesia persoalannya menjadi lebih sulit karena para petugas  negara yang belum mampu menyelesaikan urusan yang lain, apalagi mengurusi kesiapan dengan adanya AFTA ini.


KEKUATAN (STRENGTHS)SEORANG MANAGER IT
KELEMAHAN (WEAKNESSES) SEORANG MANAJER IT
1.    Lulusan S1 Ilmu Komputer, Teknik Komputer atau Teknik Informatika, ditambah pengalaman antara 5 hingga 10 tahun menjadi nilai jual calon seorang Manajer IT yang berkualitas dan berdedikasi tinggi. Tentunya diharapkan pengalaman selama ini mencakup pengetahuan akan bahasa pemograman, sistem jaringan, sistem database, troubleshooting, dan people skill. Sering juga disebut sebagai “IT Guru”. 
2.   Memiliki berbagai keahlian, kemampuan dan keterampilan khusus dalam mengetahui dan menguasai hal-hal dalam bidang IT dan mengambangkannya kepada perusahaan. Untuk menjadi seorang Manager IT yang terampil dibutuhkan hal-hal berikut :
·       Keuletan dalam mendalami Ilmu Komputer
·       Mengerti akan dasar-dasar Elektronika
·       Mengerti akan Teknologi Komputer Jaringan
·       dan pastinya tekun dalam menjalankan profesi ini
3.    Jika sudah memiliki sertifikasi keahlian dari sekolah atau lembaga. Pengalaman pekerjaan tidak perlu diperhatikan karena perusahaan mengutamakan seorang ahli dari pendidikan di dalam bidang yang dibutuhkan. Kemampuan berbahasa Inggris. Bahkan bahasa se-ASEAN. Strategi pengembangan tenaga ahli bagi karyawan yang mengabdi selama 3 tahun termasuk melatih bahasa Inggris
Memiliki kode etik merupakan suatu ketetapan yang harus diikuti sebagai petunjuk bagi karyawan perusahaan atau anggota profesi seorang Manajer IT. Karyawan IT di client mestinya juga mengambil Kode Etik tersebut, sehingga bisa terjalin hubungan profesional antara konsultan dengan client. Bertindak fair adil, jujur terhadap kolega juga berlaku bagi karyawan IT di organisasi client dalam memperlakukan vendornya.
1.   Manajer di Indonesia lebih suka memberikan instruksi daripada tujuan (goal).
2.   Manajer di Indonesia sering kali tidak menghargai proses.
3.   Manajer di Indonesia belum membuat lingkungan kerja sebagai tempat yang aman untuk gagal
4.   Manajer menginginkan kepastian di dunia yang penuh dengan ketidakpastian.
5.   Manajer masih suka menggunakan kekuatan politik dalam membuat keputusan.
6.   Memerlukan keputusan top manajer perusahanan dalam pemiihan karyawan, sehingga top manajer sulit melakukan pekerjaan yang lain.
7.   Perusahaan asing dengan bidang yang sama, dapat menganggu stabilitas perusahanan dalam mencari kebutuhan karyawan
PELUANG (OPPORTUNITIES) SEORANG MANAGER IT
ANCAMAN (THREATS) SEORANG MANAJER IT
1.      Kebutuhan sistem dan teknik informasi oleh suatu perkantoran, perusahaan, organisasi menjadi peluang besar bagi calon Manajer IT zaman sekarang ini yang sudah mengharuskan penggunaan Teknologi Informasi.
2.      Dengan adanya AFTA, maka hasil output perusahanan dapat memasuki atau menguasai kawasan ASEAN. Perusahan dapat mengekspansi di kawasan ASEAN. Jika perusahaan berhasil maka, lapangan pekerjaan akan luas terutama bagi warga Indonesia.

1.      Sistem outsourching atau kontrak kerja membuat para karyawan yang sudah bekerja dengan baik akan terganggu untuk mengembangkan kualitasnya. Sistem outsourching atau kontrak kerja menggangu semangat kerja karyawan, bahkan dapat keluar dari perusahaan. Lingkungan pekerjaan akan kurang harmonis antar karyawan atau adanya saling cari muka dikarenakan adanya rewards /promosi jabatan.
2.       AFTA 2015 menjadi ancaman karena orang asing dapat bekerja di perusahaan dalam negeri bagi seluruh karyawan.
3.      Banyak para tenaga ahli Indonesia memilih bekerja di perusahaan asing. Dikarenakan Nilai tukar Rupiah yang tidak stabil.
4.      Peraturan Negara dengan peraturan di ASEAN berbeda, menimbukan beragam permasalahan.

CARA MENGATASI ANCAMAN AFTA 2015 SEORANG MANAJER IT
Fokus pada kekuatan, bukan pada kelemahannya, merupakan prinsip yang sangat logis karena kita tidak bisa berharap manusia bisa hebat dalam segala bidang. Tentunya dengan mengecualikan beberapa gelintir Superman. Realitas menunjukkan bahwa seseorang hanya dapat unggul pada bidang-bidang yang sangat sedikit saja. Walaupun tentunya kita mungkin sering berjumpa dengan orang-orang yang punya banyak minat. Einstein, Da Vinci, Goethe, Napoleon, dan banyak tokoh lain yang berhasil memajang namanya di berbagai Ensiklopedia orang hebat itu hanya gilang-gemilang di bidang-bidang tertentu saja yang mereka memiliki kekuatan disana. Walaupun kalau kita baca-baca, ternyata mereka juga punya berlimpah minat di bidang-bidang yang lain. So you better don’t cross your finger on it!
Tuntutan terhadap kinerja mestinya juga bersandar pada kekuatan. Karena jika tidak itu sama saja kita sejak awal telah memberi alasan bagi seseorang untuk tidak bekerja dengan baik. Sebelum memberikan tuntutan kinerja tertentu, semestinya seorang pimpinan sudah terlebih dahulu memastikan bahwa orang yang diberi tugas tersebut memang memiliki kekuatan yang mendukung untuk melakukannya.
Setiap orang memiliki kekuatan dan kelemahan. Kita tentu tidak dapat hanya mengambil kekuatan kaki seorang sprinter, ketajaman mata seorang sniper, atau kecerdikan strategi si grand master saja. Melainkan kita juga harus menerima keseluruhan anggota badan dari mereka secara lengkap. Lengkap dengan kekuatan dan kelemahannya. Adanya organisasi seharusnya ditujukan untuk meramu dan meng-orkestrasi-kan kekuatan-kekuatan yang dimiliki oleh para personilnya, sembari berusaha menetralisir kelemahan-kelemahannya dan menjadikannya tidak berbahaya. Organisasi dan penempatan personil yang baik dirancang sedemikian sehingga hanya kekuatan-kekuatanlah yang relevan.
Seorang programmer kelas wahid –misalnya— yang banyak menghasilkan software-software hebat sendirian, mungkin akan sangat terhambat oleh ketidak-mampuannya untuk bekerja sama dengan orang lain. Tetapi dalam sebuah organisasi, orang seperti itu yang biasanya lebih langka dapat ditempatkan–misalnya— di sebuah pos sendiri yang terlindung dari “kontak langsung” dengan orang lain. Seorang pimpinan yang baik seharusnya mengerti betul bahwa tugasnya lah untuk membuat programmer hebat tadi dapat membuat software-software terbaik untuk organisasinya dan tidak berangan-angan tentang kemampuannya untuk bekerja-sama dengan orang-orang lain. Dia tidak akan menunjuk programmer tadi sebagai manajer. Karena disisi lainnya ada personil-personil yang memiiliki kekuatan dalam –misalnya—komunikasi dan leadership yang dibutuhkan oleh seorang manajer. Intinya, organisasi semestinya dapat membuat kekuatannya efektif dan kelemahannya menjadi tidak relevan.
Oleh karena itu apa yang bisa dilakukan oleh programmer tadi – dan “orang-orang kuat” lainya dalam organisasi— itulah yang penting bagi sebuah organisasi. Apa yang tidak dapat dia lakukan adalah sebuah keterbatasan dan tidak lebih dari itu. Bahkan umumnya jika kita mencari orang yang “paling sedikit kekurangannya”, maka biasanya yang kita akan dapatkan adalah orang yang biasa-biasa saja.

SIMPULAN DAN SARAN
a.    Simpulan
Dalam persaingan bidang perusahaan atau industri di ASEAN, Indonesia memiliki peluang yang besar. Akan  tetapi perlu diingat bahwa selain peluang Indonesia juga akan dihadapkan dengan berbagai tantangan dan juga ancaman yang mungkin bisa menghambat para perusahaan dan industri Indonesia untuk dapat bersaing dengan negara ASEAN lainnya.
SDM yang berkulitas bagi perusahaan sangat mempengaruhi keunggulan produknya dalam bersaing dengan pesaingnya, baik di tingkat domestik maupun di tingkat luar negeri, AFTA sangat memungkinkan setiap negara se-ASEAN dapat bekerja, mencari pendidikan di negara sesama ASEAN bebas visa. Lalu penghasilan negara berkurang karena eksport dan import (bea 0-5%). Sehingga akan berdampak pengurangan APBN termasuk gaji pegawai negara.
b.    Saran
Sebagai generasi muda, maka kita perlu harus mempersiapkan segalanya sedini dan semaksimal mungkin agar siap saat 2015 nanti AFTA sudah dimulai. Karena kitalah yang akan dibutuhkan Indonesia bukan hanya perusahaan saja.  Untuk dapat memanfaatkan peluang serta mengantisispasi terjadinya ancaman itu maka pemerintah harus memersiapkan diri untuk menyongsong era AFTA nanti ini dengan mempercepat pembangunan, pengembangan SDM, sektor pendidikan dibenahi. Agar hasil output dari lembaga-lembaga pendidikan dan pelatihan menjadi SDM yang berkualitas di berbagai bidang untuk meningkatkan daya saing. Begitu juga perusahaan, maka peluang itu sangat besar untuk menjadikan Indonesia sebagai negara  produsen, bukan sebagai Negara konsumen lagi.