SWOT
adalah singkatan dari Strenghths (kekuatan), Weakness (kelemahan),
Opportunities (peluang), dan Threats (ancaman). Ini adalah teknik untuk
menyediakan kerangka kerja untuk mengidentifikasi secara sistematis posisi
organisasi; caranya berhubungan dengan lingkungan eksternal dan masalah serta
peluang yang dihadapi. Tujuan analisis SWOT adalah untuk memisahkan masalah
pokok dan memudahkan pendekatan strategis. Kali ini kami akan membahas mengenai
analisis SWOT Seorang Manager IT agar para calon karyawan lainnya dapat
menghadapi AFTA 2015.
AFTA (ASEAN Free
Trade Area) merupakan kesepakatan dari negara–negara di ASEAN untuk
membentuk sebuah kawasan bebas perdagangan. Tujuannya yaitu agar bisa meningkatkan
daya saing ekonomi kawasan ASEAN di dunia. Harapannya, jika AFTA ini sukses,
maka, ASEAN bisa menjadi kawasan basis produksi di dunia.
Perjanjian perdagangan bebas AFTA
dicetuskan ketika terjadi pertemuan tingkat Kepala Negara ASEAN atau SEAN summit ke-4,
yang dilakukan pada tahun 1992. Pada pertemuan itu para kepala negara
mengumumkan akan membentuk sebuah kawasan perdagangan bebas di ASEAN dalam
jangka waktu 15 Tahun. Kalau dihitung seharusnya akan efektif berjalan secara
penuh pada tahun 2007. Namun kenyataanya, AFTA ini akan aktif pada tahun 2015,
yaitu menjadi 22 tahun kemudian.
Dengan
adanya kebijakan perdagangan bebas AFTA ini, nantinya tidak akan akan ada
hambatan tarif (bea masuk 0-5%) ataupun hambatan non tarif untuk negara –
negara anggota ASEAN. Dengan begitu, tentunya keuntungan dan tantangan akan
muncul untuk negara Indonesia juga. Lantas, apakah negara kita Indonesia sudah
siap? Siap memanfaatkan kondisi ini untuk membuat negara lebih maju dan
berkembang? Apalagi AFTA ini efektif tahun 2015.
Tantangan AFTA 2015 Untuk Indonesia
Setiap Negara-negara
se-ASEAN mau tidak mau menghadapi AFTA siap atau tidak meskipun keadaan di
negara masing-masing masih kurang terjamin. Tantangan AFTA 2015 sendiri bagi
Indonesia sangat komplek, hal ini sering kita alami dan kita rasakan sendiri
dalam kehidupan sehari-hari. Yaitu lapangan pekerjaan dan pendidikan yang
sulit, harga pasar dan bahan pokok dan BBM selalu naik tidak pasti, namun jika
kita memiliki keahlian Negara kurang mendukung untuk mengembangkannya. Apalagi
kemampuan SDM kita sangat kurang, lalu para tenaga ahli lebih memilih bekerja
di luar negeri
Hal ini yang selalu
menjadi pekerjaan rumah negara Indonesia dengan jumlah penduduknya yang sangat
besar setelah India, maka pemerintah akan sulit dalam mengatur dan
mengelolanya. Akan jauh lebih berbeda penyelesainnya dengan negara tetangga.
Namun Indonesia persoalannya menjadi lebih sulit karena para petugas
negara yang belum mampu menyelesaikan urusan yang lain, apalagi mengurusi
kesiapan dengan adanya AFTA ini.
|
KEKUATAN (STRENGTHS)SEORANG MANAGER IT
|
KELEMAHAN (WEAKNESSES) SEORANG MANAJER IT
|
|
1. Lulusan S1 Ilmu
Komputer, Teknik Komputer atau Teknik Informatika, ditambah pengalaman antara
5 hingga 10 tahun
menjadi nilai jual calon seorang Manajer IT yang berkualitas dan berdedikasi
tinggi. Tentunya diharapkan pengalaman selama ini mencakup
pengetahuan akan bahasa pemograman, sistem jaringan, sistem database,
troubleshooting, dan people skill. Sering juga disebut sebagai “IT Guru”.
2.
Memiliki berbagai
keahlian, kemampuan dan keterampilan khusus dalam mengetahui dan menguasai
hal-hal dalam bidang IT dan mengambangkannya kepada perusahaan. Untuk menjadi seorang Manager IT yang
terampil dibutuhkan hal-hal berikut :
·
Keuletan dalam
mendalami Ilmu Komputer
·
Mengerti akan
dasar-dasar Elektronika
·
Mengerti akan
Teknologi Komputer Jaringan
·
dan pastinya tekun
dalam menjalankan profesi ini
3. Jika sudah memiliki
sertifikasi keahlian dari sekolah atau lembaga. Pengalaman pekerjaan tidak
perlu diperhatikan karena perusahaan mengutamakan seorang ahli dari
pendidikan di dalam bidang yang dibutuhkan. Kemampuan berbahasa Inggris. Bahkan
bahasa se-ASEAN. Strategi pengembangan tenaga ahli bagi karyawan yang
mengabdi selama 3 tahun termasuk melatih bahasa Inggris
Memiliki
kode etik merupakan suatu ketetapan yang harus diikuti sebagai petunjuk bagi
karyawan perusahaan atau anggota profesi seorang Manajer IT. Karyawan IT di
client mestinya juga mengambil Kode Etik tersebut, sehingga bisa terjalin
hubungan profesional antara konsultan dengan client. Bertindak fair adil,
jujur terhadap kolega juga berlaku bagi karyawan IT di organisasi client
dalam memperlakukan vendornya.
|
1. Manajer di Indonesia lebih suka memberikan
instruksi daripada tujuan (goal).
2. Manajer di Indonesia sering kali tidak menghargai
proses.
3. Manajer di Indonesia belum membuat lingkungan
kerja sebagai tempat yang aman untuk gagal
4. Manajer menginginkan kepastian di dunia yang penuh
dengan ketidakpastian.
5. Manajer masih suka menggunakan kekuatan politik
dalam membuat keputusan.
6.
Memerlukan keputusan top manajer perusahanan dalam
pemiihan karyawan, sehingga top manajer sulit melakukan pekerjaan yang lain.
7.
Perusahaan asing dengan bidang yang sama, dapat
menganggu stabilitas perusahanan dalam mencari kebutuhan karyawan
|
|
PELUANG (OPPORTUNITIES) SEORANG MANAGER IT
|
ANCAMAN (THREATS) SEORANG MANAJER IT
|
|
1.
Kebutuhan sistem dan teknik informasi
oleh suatu perkantoran, perusahaan, organisasi menjadi peluang besar bagi
calon Manajer IT zaman sekarang ini yang sudah mengharuskan penggunaan
Teknologi Informasi.
2.
Dengan adanya AFTA, maka hasil output perusahanan
dapat memasuki atau menguasai kawasan ASEAN. Perusahan dapat mengekspansi di
kawasan ASEAN. Jika perusahaan berhasil maka, lapangan pekerjaan akan luas
terutama bagi warga Indonesia.
|
1.
Sistem outsourching atau
kontrak kerja membuat para karyawan yang sudah bekerja dengan baik akan terganggu
untuk mengembangkan kualitasnya. Sistem outsourching atau
kontrak kerja menggangu semangat kerja karyawan, bahkan dapat keluar dari
perusahaan. Lingkungan pekerjaan akan kurang harmonis antar karyawan atau
adanya saling cari muka dikarenakan adanya rewards /promosi jabatan.
2.
AFTA 2015 menjadi ancaman karena orang asing dapat bekerja di
perusahaan dalam negeri bagi seluruh karyawan.
3.
Banyak para tenaga ahli Indonesia memilih bekerja di perusahaan asing.
Dikarenakan Nilai tukar Rupiah yang tidak stabil.
4.
Peraturan Negara dengan peraturan di ASEAN berbeda, menimbukan beragam
permasalahan.
|
CARA
MENGATASI ANCAMAN AFTA 2015 SEORANG MANAJER IT
Fokus pada kekuatan, bukan pada kelemahannya, merupakan
prinsip yang sangat logis karena kita tidak bisa berharap manusia bisa hebat
dalam segala bidang. Tentunya dengan mengecualikan beberapa gelintir Superman.
Realitas menunjukkan bahwa seseorang hanya dapat unggul pada bidang-bidang yang
sangat sedikit saja. Walaupun tentunya kita mungkin sering berjumpa dengan
orang-orang yang punya banyak minat. Einstein, Da Vinci, Goethe, Napoleon, dan
banyak tokoh lain yang berhasil memajang namanya di berbagai Ensiklopedia orang
hebat itu hanya gilang-gemilang di bidang-bidang tertentu saja yang mereka
memiliki kekuatan disana. Walaupun kalau kita baca-baca, ternyata mereka juga
punya berlimpah minat di bidang-bidang yang lain. So you better don’t
cross your finger on it!
Tuntutan terhadap kinerja mestinya juga bersandar pada
kekuatan. Karena jika tidak itu sama saja kita sejak awal telah memberi alasan
bagi seseorang untuk tidak bekerja dengan baik. Sebelum memberikan tuntutan
kinerja tertentu, semestinya seorang pimpinan sudah terlebih dahulu memastikan
bahwa orang yang diberi tugas tersebut memang memiliki kekuatan yang mendukung
untuk melakukannya.
Setiap orang memiliki kekuatan dan kelemahan. Kita tentu
tidak dapat hanya mengambil kekuatan kaki seorang sprinter,
ketajaman mata seorang sniper, atau kecerdikan strategi si grand
master saja. Melainkan kita juga harus menerima keseluruhan anggota
badan dari mereka secara lengkap. Lengkap dengan kekuatan dan kelemahannya.
Adanya organisasi seharusnya ditujukan untuk meramu dan meng-orkestrasi-kan
kekuatan-kekuatan yang dimiliki oleh para personilnya, sembari berusaha menetralisir
kelemahan-kelemahannya dan menjadikannya tidak berbahaya. Organisasi dan
penempatan personil yang baik dirancang sedemikian sehingga hanya
kekuatan-kekuatanlah yang relevan.
Seorang programmer kelas wahid –misalnya—
yang banyak menghasilkan software-software hebat sendirian, mungkin akan sangat
terhambat oleh ketidak-mampuannya untuk bekerja sama dengan orang lain. Tetapi
dalam sebuah organisasi, orang seperti itu yang biasanya lebih langka dapat
ditempatkan–misalnya— di sebuah pos sendiri yang terlindung dari “kontak
langsung” dengan orang lain. Seorang pimpinan yang baik seharusnya mengerti
betul bahwa tugasnya lah untuk membuat programmer hebat tadi dapat membuat
software-software terbaik untuk organisasinya dan tidak berangan-angan tentang
kemampuannya untuk bekerja-sama dengan orang-orang lain. Dia tidak akan
menunjuk programmer tadi sebagai manajer. Karena disisi lainnya ada
personil-personil yang memiiliki kekuatan dalam –misalnya—komunikasi dan leadership
yang dibutuhkan oleh seorang manajer. Intinya, organisasi semestinya dapat
membuat kekuatannya efektif dan kelemahannya menjadi tidak relevan.
Oleh
karena itu apa yang bisa dilakukan oleh programmer tadi – dan
“orang-orang kuat” lainya dalam organisasi— itulah yang penting bagi sebuah
organisasi. Apa yang tidak dapat dia lakukan adalah sebuah keterbatasan dan
tidak lebih dari itu. Bahkan umumnya jika kita mencari orang yang “paling
sedikit kekurangannya”, maka biasanya yang kita akan dapatkan adalah orang yang
biasa-biasa saja.
SIMPULAN DAN SARAN
a. Simpulan
Dalam persaingan bidang perusahaan atau
industri di ASEAN, Indonesia memiliki peluang yang besar. Akan tetapi
perlu diingat bahwa selain peluang Indonesia juga akan dihadapkan dengan
berbagai tantangan dan juga ancaman yang mungkin bisa menghambat para
perusahaan dan industri Indonesia untuk dapat bersaing dengan negara ASEAN
lainnya.
SDM yang berkulitas bagi perusahaan
sangat mempengaruhi keunggulan produknya dalam bersaing dengan pesaingnya, baik
di tingkat domestik maupun di tingkat luar negeri, AFTA sangat memungkinkan
setiap negara se-ASEAN dapat bekerja, mencari pendidikan di negara sesama ASEAN
bebas visa. Lalu penghasilan negara berkurang karena eksport dan import (bea
0-5%). Sehingga akan berdampak pengurangan APBN termasuk gaji pegawai negara.
b. Saran
Sebagai generasi muda, maka kita perlu
harus mempersiapkan segalanya sedini dan semaksimal mungkin agar siap saat 2015
nanti AFTA sudah dimulai. Karena kitalah yang akan dibutuhkan Indonesia bukan
hanya perusahaan saja. Untuk dapat memanfaatkan peluang serta
mengantisispasi terjadinya ancaman itu maka pemerintah harus memersiapkan diri
untuk menyongsong era AFTA nanti ini dengan mempercepat pembangunan,
pengembangan SDM, sektor pendidikan dibenahi. Agar hasil output dari lembaga-lembaga
pendidikan dan pelatihan menjadi SDM yang berkualitas di berbagai bidang untuk
meningkatkan daya saing. Begitu juga perusahaan, maka peluang itu sangat besar
untuk menjadikan Indonesia sebagai negara produsen, bukan sebagai Negara
konsumen lagi.